Dokter UNDER COVER; Its all about Internsip


Saat ini aku mau bercerita kronologis detik detik kejadian si pasien menangis terharu, keluarga-keluarganya memelukku dan suaminya histeris. Bentar bentar aku bersihin jaring laba laba sama beberapa debu yang uda numpuk disini. Ciyaan aja blog aku uda ngga di urus ginich.

Huachii, srooot, huachiiiii. Huachiiiii.., srooot. Oke aku sadar kalo alergi debu sudah mal kompromi dan mal pengertian. LUPAKAN ITU.

Cerita ini nyata menimpa hidup ku, saat itu aku masih menjalani program dokter internsip di salah satu Puksesmas Pemerintah Kabupaten Bireuen. Seperti biasa saat bertugas di UGD, kalo lagi ngga ada pasien aku sering curhat curhat sama kaka perawat. Pembahasan kita tidak vulgar kok. Biarpun sesekali under control jadi keserempet kearah sana. Ya jangan dikonotasikan negatip juga kale cuy. Keseringan sih itu kaka perawat ngawali dari cerita ceritaan terus akhirnya aku selalu di beri wejangan. Heran deh, apa yang salah dari aku coba. Begini nih bunyi nya “dokter, ingat usia, udah masanya ini dokter, kalo ketuaan entar uda ngga enak lagi!!!” EMANGNYA GUE KUE YANG BISA NGGA ENAK LAGI KALO UDA KELAMAAN. Oke LUPAKAN ITU.

Keseringan deh bahas gituan. Apa coba gunanya. Biasanya sih, Saat saat aku mau diserang sama yang gitu gitu an pasien selalu dateng. Simple aja aku nanggepi. “Bentar ya kak kita layani ini pasien dl, abis ini kita lanjut lagi”. Pasti dah lupa itu kaka perawat sama pembahasan tadi. Selamet selameet. Tuhan tahu emang kalo hambanya ini butuh pertolongannya.

Pernah juga suatu ketika, ada perawat yang lagi hamil anak pertama, hmm.. 8 bulanan deh, mau brojol gitu, sebut aja namanya Gishel, aku sering kesel ni sama si Gishel, uda jelas jelas itu perut segede galon, masi juga mau dinas. Ngga cape apa?. Bukannya istirahat dirumah nunggu nunggu brojol ato ngapain kek bareng suami. bukan apa apa sih, bukannya iri ato gimana gitu karena Gishel uda mau duluan punya anak. Tapi itikat baik, naluri ku sebagai Laki, kasian kaann. Kurang apa coba aku untuk calon suami. Fuuhh!!!. Jadi si Gishel ini pernah bilang gini, “dokter, kalo yang lagi ngidam pas hamil harus dikabulin. Gishel lagi ngidam dokter gantiin kerjaan Gishel hari ini sebagai perawat” WHATTT!!.. suami lo yang nyetrum, kok ngidamnya ke gue. Terus gishel dengan polosnya jawab “iya dokter emang gitu, kl ngga nanti anak dokter ngences”. Aku bersikap tenang terus berkata. Gishelll kebahagiaan apa lagi yang mau kau renggut dari aku. Belum lagi dia ngidam makanan, ngidam pasien tertentu dan banyak aib gue lainnya ;((. Kata kata pamungkasnya “iya dokter emang gitu, kl ngga nanti anak dokter ngences”, bener bener buat ku kalah KO. Itulah kenapa baiknya dia dirumah aja. Aku tahu tuhan, ini ujian dari mu.

Tak beberapa lama kemudian, si Gishel mutusin utk cuti hamil, melahirkan, menyusui. Aku sih berharapnya supaya dia sekalian aja cuti hamil, melahirkan, menyusui, membesari bayi, mencari nafkah utk bayi, memberi adik utk si bayi dst. Mulai saat itu hidup ku lebih teratur, aku mulai menemukan peran ku seutuhnya. Sampai pada suatu ketika. Seorang pasien, wanita, 23 tahun datang dengan mengeluh mual, muntah, ngga enak perut, lemas, uda sebulan lebih. Si pasien bilang uda berobat ke beberapa mantri (perawat yang buka praktek dibeberapa daerah terpencil). Sampe sampe dibilang si pasien sakit typhus. Aku heran. Kok si penyakit typhus ini jadi kambing hitam yang paling hitam dari semua penyakit ya?. Dikit dikit typhus, dikit dikit typhus. Aku tanya sama pasien. Dapet haid terakhir kapan? Si pasien lupa. Katanya kira kira uda lebih satu bulan yang lalu. Selanjutnya aku coba periksa ini pasien. Sampe aku mutusin untuk ngelakuin pemeriksaan plano test (ngga tau, Tanya mbah google coba). Selang beberapa lama hasil pemeriksaan keluar. Well, aku langsung menjumpai itu pasien dan bilang. “ibu, dari pemeriksaan saya dan laboratorium yang sudah kita lakukankan, untuk saat ini saya menyimpulkan keluhan yang ibu alami itu karena ibu hamil, ya ibu hamil” si pasien mulai berkaca mata, eh bekaca kaca, dan aku mulai merasakan sesuatu. Aku mulai sulit berbicara. Padalah setelah itu aku masih bicara “tapi ini bukan suatu tanda pasti kehamilan, mudah mudahan ini benar hamil. Kita akan evaluasi lebih lanjut ya bu” kata kata itu aku ucapin dengan bibir bergetar getar. Kebayang kan anehnya intonasi seperti apa. Semoga mereka mengerti. “gimana bu ada yang mau ditanyakan?” sahut ku lagi. Spontan keluarga ibu itu meluk aku sambil bilang, “terima kasih dokter, saya terharu” sahut ku; “iiiyaa buu,, tp hiduung sayyya janngan diiii penncet doong. Bisa ggagal naapas saayya bu”. Akupun merasakan hal yang sangat istimewa. Ini benar benar istimewa dalam karir ku sebagai dokter. Tak mau kalah suami pasien pun histeris kayak sinchan lagi nagis. Disela sela histerisnya aku mendengar dia berbisk, “begini rasanya dokter kebahagiaan itu. Dokter kapan ngakhirin single nya??” LUPAKAN ITU. -_____- !!

Dokter UNDER COVER; Its all about Internsip

One thought on “Dokter UNDER COVER; Its all about Internsip

  1. dudut says:

    *masih nungguin pak dokter niii….<3 <3,,sbg dokter uda dapet bahagianya,,Kalo sbg suami pasti…lebih..ISTIMEWA :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s