Combat human immunodeficiency virus (HIV), protect the person


published at newsletter cimsa University of syiah Kuala “hemisfer dextra”

Fenomena gunung es merupakan sebuah simbol yang menggambarkan insidensi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Suatu kondisi dimana secara sesungguhnya beberapa literatur menyebutkan HIV/AIDS telah menjadi wabah penyakit. UNAIDS, suatu badan world health organization (WHO) yang mengurus masalah AIDS memperkirakan HIV/AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, sehingga membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis secara bersamaan, menyebabkan krisis kesehatan, krisis pembangunan Negara, krisis ekonomi, pendidikan dan juga krisis kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS telah menyebabkan krisis multidimensi.

Sementara itu di sisi lain Millennium Development Goals (MDGs), dalam point 6 menargetkan Combat HIV/AIDS, malaria, and other diseases dengan beberapa langkah; HIV prevalence among population aged 15–24 years, Condom use at last high-risk sex, Proportion of population aged 15–24 years with comprehensive correct knowledge of HIV/AIDS, Proportion of population with advanced HIV infection with access to antiretroviral drugs.

Sebuah pertempuran antara manusia vs HIV tergambar pada penjelasan di atas. Tak ada argument atau alasan lain, mahasiswa kedokteran harus bangkit untuk “combat HIV, protect the person”.

HIV/AIDS

Virus penyebab HIV/AIDS diidentifikasi oleh Luc Montagnier pada tahun 1983 yang pada waktu itu diberi nama LAV (lymphadenopathy virus). Sedangkan Robert Gallo menemukan virus penyebab AIDS pada tahun 1984 yang saat itu dinamakan HTLV-III. AIDS dapat diartikan sebagai sindroma yang disebabkan oleh menurunnya sistem imunitas akibat infeksi virus HIV. Penularan HIV/AIDS terjadi melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV, sehingga kelompok yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS adalah pengguna narkotika, pelaku seks bebas dan bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV.

Limfosit CD4+ merupakan target utama infeksi HIV karena virus tersebut mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4+. Limfosit CD4+ berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif. Seseorang dinyatakan terinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan laboratorium terbukti terinfeksi HIV, baik dengan metode pemeriksaan antibodi atau dengan metode mendeteksi adanya virus dalam tubuh.

Data selama 8 tahun terakhir telah menunjukkan bukti yang amat menyakinkan bahwa pengobatan dengan beberapa kombinasi obat antiHIV (antiretroviral) bermanfaat menurunkan mortalitas dan morbiitas. Secara umum, penatalaksanaan AIDS terdiri dari; (1) pengobatan dengan menekan replikasi virus, (2) pengobatan untuk mengatasi berbagai infeksi penyerta HIV/AIDS seperti infeksi jamur, tuberkulosis dll dan (3) pengobatan supportive.

STRATEGI MEMERANGI HIV/AIDS

Indonesia sebagai tuan rumah ASEAN Task Force on AIDS (ATFOA), menggelar symposium mengenai “International Symposium on Getting to Zero New HIV Infections, Zero Discrimination, Zero AIDS-Related Deaths in ASEAN”. Hal ini menunjukkan keseriusan dari berbagai elemen untuk memerangi HIV/AIDS yang secara langsung memiliki dampak yang sangat positif bahwa HIV/AIDS bukan hanya masalah bagi praktisi kesehatan. Namun merupakan masalah bersama. Sebagai praktisi kesehatan sudah seharusnya kita memiliki kontribusi yang lebih besar lagi untuk memerangi HIV/AIDS. Terdapat beberapa program yang telah terbukti sukses di beberapa Negara dan amat dianjurkan oleh WHO untuk dilaksanakan, yaitu;

  1. Program pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda, insidensi HIV/AIDS paling tinggi pada tingkat usia remaja dan dewasa muda, disisi lain pengetahuan mengenai HIV/AIDS pada kelompok ini masih tergolong sangat minim. Program ini perlu dipertimbangkan sebagai suatu strategi dalam memerangi HIV/AIDS.
  2. Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik, publikasi merupakan strategi yang amat jitu dalam Membumingikan issue ini kepada masyarakat sehingga akan mendorong partisipasi masyarakat untuk peduli dan berkontribusi untuk HIV/AIDS. beberapa langkah sederhana namun memiliki efek besar yang dapat kita lakukan adalah melalui tulisan, poster dan selebaran tentang HIV/AIDS.
  3. Program pendidikan agama, kehidupan beragama yang berjalan baik secara lagsung memiliki efek positiv dalam proteksi diri terhadap hal yang dapat meningkatkan resiko penularan HIV/AIDS seperti penggunaan narkoba dan seks bebas.
  4. Program konseling HIV, pengadaan tempat konseling yang mudah dicapai dan dengan suasana akrab akan menyebabkan orang yang memiliki resiko tinggi akan datang mengunjungi tempat konseling tersebut. Dengan konseling diharapkan orang yang terinfeksi HIV tidak akan menularkan HIV ke orang lain.
  5. Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan dan dukungan untuk ODHA (orang dengan aids) tanpa stigma dan diskriminasi, ini merupakan syarat mutlak untuk keberhasilan memerangi HIV/AIDS, hasil yang didapat akan lebih baik jika digabungkan antara program promotive dan preventive dengan program kurative dan paliative.

Beberapa langkah di atas bukanlah hal yang sulit untuk dilaksanakan bagi kita, kita harus bangkit dan berbuat sesuatu, bukan saatnya lagi untuk berfikir apa yang bisa kita perbuat tapi perhatikan sekeliling kita dan lakukan sesuatu for combat HIV, protect the person.

Combat human immunodeficiency virus (HIV), protect the person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s