Perspektif ku mengenai Internship; antara aku dan si Profesor


Niat mwu masak telur matasapi rupanya jadi dadar. Ini berawal dari keinginan mengulang kembali kesuksesan sebagai chef handal, tp ternyata aku sadar, kalo jam 24.45 dgn  kondisi tubuh yang lelah karena aktififas seharian ini membuat kemampuan memasaku berkurang..

Oke, disini aku ngga akan bercerita mengenai telur dan jenis2nya ato bahkan resep dan cara memasak telur yang baik dan benar. Tulisan ini berawal dari suatu kontroversi pemikiran aku terhadap kebijakan pemerintah untuk mewajibkan semua dokter lulusan indonesia mengikut internship (sebuah program pengabdian n peningkatan SDM bagi dokter baru lulus).

Singkat cerita, aku memiliki sebuah sudut pandang kalo program ini dijalankan pemerintah sebagai akal akalannya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dokter di indonesia tanpa menambah alokasi dana. Aku sangat yakin, banyak juga teman2 seperjuangan berfikir kayak gini.

Ternyata sore tadi tepatnya didalam sebuah mobil yang selalu melindungiku dikala hujan, dan sengat matahari (bukan bermaksud sok puitis ato bahkan dangdutan). Aku bersama seorang profersor asal universitas Brawijaya seorang ketua KIDI (komite internship dokter indonesia) jalan bareng. Kalian semua jangan heran kenapa tiba tiba aku bisa bersama beliau satu mobil ato bahkan berfikir yg aneh aneh, kupertegas, aku ini lelaki tulen. Ini semua kebetulan, berawal dari brifing mengenai internship sampai aku diminta tolong oleh pak Pemb.dekan mengantarkan beliau kembali ke hotel. Akupun tidak menyianyaikan kesempatan emas itu (persis saat aku memanfaatkan moment kalo ada acara makan makan, takkan kubiarkan satu menupun tak kucicipi).

Aku berdiskusi panjang lebar dengan beliau, sebuah jalan kenangan antara aku dan beliau terlukis sudah, beliau benar benar membuka cakrawala berfikir aku mengenai internship, inilah yang namanya sudah lebih lama makan asam garam, sudut pandang berfikirnya pun asam kayak garam (dibaca, sangat matang). Ini menyadarkan aku, bahwa ternyata selogan “saatnya yang muda berkontribusi untuk perubahan bangsa, sementara yang tua istirahat saja” rasanya kurang tepat, pemikirin yang tua sangat matang, kita butuh pemikiran dan sudut pandang mereka, karena bagaimanapun kemampuan analisa dan pengalaman membuat mereka lebih matang. Oke oke alfin, cukup membicarakan itu, ini bener2 asem.

Buat temen temen seperjuangan ku, mari kita berfikir lebih realistis, singkirkan ego, tingkatkan toleransi. Ada tiga alasan yang membuatku merasa bahwa intership adalah yang terbaik untuk kita saat ini (mulai serius dan berwibawa).

(1) Dengan internship kebutuhan dokter dseluruh wilayah akan terpenuhi, pasti hati kalian bergejolak, tapi kita tidak difasilitasi apa apa, gaji aja lebih rendah dengan gaji buruh (hellow..kita bukan buruh, undang2 buruh beda dengan kita), nah skrng coba difikir apakah masyarakat tidak perlu difasilitasi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan? Basic dokter kan sebagai pelayanan di bidang kesehatan, ya inilah dokter, melayani masyarakat, belum saatnya kita menjadi bos, prioritaskan pengalaman teman (jangan dinilai aku sok idealis lho), dengan pengalaman kalian akan  bermimpi dan mewujudkan mimpi kalian menjadi kenyataan.

(2) intership sebagai wadah peningkatan kinerja dan profesionalisme dengan mengutamakan peningkatan pemahiran, pemandirian dan penerapan standar profesi. So apa lagi guys, ngga ada yg bisa jamin selesai dokter kita akan mendapat pekerjaan, tapi dengan intership kita bs langsung berinteraksi, punya pengalaman kerja, bukankah sebuah pengalaman dan kemampuan pemandirian dan penerapan standar profesi dokter (kita butuh ini guys as doctor, co-asissten belum bisa memberi ini) tidak ternilai harganya.

(3) okela..aku meliahat kalian mulai setuju untuk intership tapii, gimana kalo ditempatin di tempat yang ngga ada satu orangpun yang kita kenal??, meskipun aku dilahirkan dan dibesarkan sampai saat ini teruus teruuss aja disini, ngga pernah negrantau, ngga pernah ngerasain pulang kampung (sambil tutup mukak bisik dlm hati, anak mami banget yak) percayalah teman, ada 3 golongan yang slalu disegani dimanapun,yaitu; pemuka agama, dokter dan guru. Percayalah ini benar.

Ulasan ini bukanlah rekayasa antara aku dan si profesor untuk menyukseskan program intership. Ini benar2 sudut pandang seorang yang pemalu, pendiam dan culun yang bernama said alfin khalilullah. Mudah2an ini bs menjadi inspirasi ato hanya sekedar komedi, semoga pelayanan kesehatan kedepannya bisa lebih baik..amiiiin. let we act guys, cause indonesia need us

Perspektif ku mengenai Internship; antara aku dan si Profesor

7 thoughts on “Perspektif ku mengenai Internship; antara aku dan si Profesor

  1. bg alpiiinnn…
    emil aja mau bunuh diri baca tulisan abg..
    gak ush d tutupi lagi bg,abg pasti senang semobil sama prof itu kan,ngaku bg..
    smua org udh tau bg..
    trus kritik bg,terlalu bnyk kata2 yg salah dalam tulisan abg,tapi cukup lah buat pemula kyk abg.. peace… :))

    1. alfinzone says:

      hhahaha..gpp mil, bilang aja teruus abang udh siapin rencana kok, mngkin beberapa saat lagi bakal mulai..so pesan ab siapin diri ya..
      #utk kritiknya luar biasa membangun emil,makasi,jarang ada guru bhs indonesia yg sampe sebegini carenya;)

  2. winda novellia says:

    Uaaa..selamat berinternship riaa yaa bang pipin semoga diperlancar dan dipertemukan lagi dengan profesornyaa😀 . doakann sayaa yaaa :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s