Kualitas hidup penderita kanker kepala leher paska kemoterapi


PENDAHULUAN

Secara Harfiah neoplasma berarti pertumbuhan baru, neoplasma didefinisikan sebagai “massa jaringan abnormal dengan pertumbuhan berlebihan dan tidak ada koordinasi dengan pertumbuhan jaringan normal, dan tetap tumbuh dengan cara yang berlebihan”1.

National cancer institute di Amerika Serikat, melaporkan, bahwa pada tahun 1991 terdapat 6 juta pasien tumor ganas. Dari seluruh tumor ganas tersebut, insiden karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamous adalah sebanyak 600.000 pasien. Tercatat pasien tumor ganas kepala dan leher sebanyak 78.000 orang dan lebih dari 75% adalah karsinoma sel skuamous2. Pada awal januari 1997 dilaporkan bahwa kira kira 33% pasien tumor ganas leher dan kepala telah meninggal dunia. Secara keseluruhan, naka rata rata bertahan hidup 5 tahun untuk tumor ganas leher dan kepala berkisar antara 50-60% untuk tumor primer saja, dan bertahan hidup selama lima tahun sebanyak 30% pada pasien tumor ganas primer yang telah bermetastasis2.

Tembakau adalah penyebab yang paling sering disebutkan dalam perkembangan sel skumous3. Peminum alkohol dan perokok berat juga memiliki resiko timbulnya karsinoma sel skuamous khususnya pada rongga mulut, faring, dan sinus piriformis2. Higiene mulut yang buruk juga diduga sebagai penyebab. Penyebab virus khususnya virus epstaein barr dihubungkan dengan terjadinya karsinoma nasofaring3.

Dua per tiga dari seluruh kanker leher dan kepala terdapat pada rongga mulut dan laring. Distrubusi kira kira 42% adalah tumor ganas rongga mulut, 25% laring, 15% orofaring dan hipofaring, 7% kelenjar liur besar, 4% nasofaring, 4% hidung dan sinus paranasal, 3% tiroid, kulit dan jaringan ikat lainnya2,3.

Dengan anamnesa dan pemeriksaan kepala leher yang teliti. Lesi ulseerasi yang dicurigai dalam rongga mulut dapat dibiosi di klinik setelah aplikasi topical kokain 4% atau infiltrate anasthesi local dengan jarum. Penggunaan forsep biopsy berbentuk seperti cangkir membutuhkan anasthesi yang minimal. Biopsi bagian posterior, tonsil, faring atau laring biasa nya dilakukan dengan anasthesi umum diruang operasi untuk memberikan pemetaan lesi yang teliti. Planigram laring atau laringogram dapat membantu dalam menentukan perluasan tumor, namun CT scan merupakan cara yang paling disukai. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum biopsy untuk menghindari kebingungan antara perluasan tumor dengan edema akibat biopsy3.

Saat ini terdapat 5 metode yang spesifik untuk pengobatan keganasan kepala dan leher yaitu: Terapi radiasi, Eksisi pembedahan, Eksisi dengan laser, Kemoterapi, Kombinasi. Kanker kepala dan leher dapat memiliki efek besar pada kualitas hidup4. Hal ini disebabkan struktur anatomi kepala dan leher yang saling berdempetan dan saling mempengaruhi satu sama lain4. Kebanyakan pasien dengan karsinoma sel skuamosa pada kepala dan leher (SCCHN) datang pada stadium III atau IV. terapi konvensional pada pasien ini umumnya melibatkan radioterapi saja atau kombinasi dengan kemoterapi (kemoradioterapi [CRT]); operasi disediakan untuk pengobatan penyelamatan. Radioterapi toksisitas terkait, seperti xerostomia, terdokumentasi dengan baik dan dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup. Penggunaan CRT telah meningkatkan baik kontrol locoregional dan kelangsungan hidup di luar itu dicapai dengan radioterapi saja, tetapi juga dikaitkan dengan peningkatan yang signifikan pada toksisitas. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dengan SCCHN yang menjalani CRT adalah xerostomia, gangguan rasa, pembatasan diet, disfagia, dan nyeri. Masalah dengan interaksi sosial dan depresi juga telah dilaporkan5.

Suatu hal yang semakin penting dalam onkologi adalah untuk mengevaluasi kualitas hidup pada pasien kanker pasca terapi. Masalah utama yang dihadapi penderita kanker terkait dengan dukungan sosial  emosional, kesehatan dan spiritual4. Banyak penelitian telah menunjukkan kualitas hidup secara keseluruhan baik atau memadai pada pasien kanker. Namun, di antara yang selamat, masalah psikososial dan gejala-gejala seperti nyeri dan lymphedema, khususnya efek samping dari terapi adjuvant sistemik (kemoterapi) kualitas hidup masih persisten6.

Berdasarkan dari World Health Organization (WHO), Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi dari individu terhadap kehidupan, nilai nilai, standart dan kehidupan4. Kualitas hidup semakin banyak digunakan sebagai ukuran dalam penelitian untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan. Pada umun nya pasien bukan mengukur tingkat lipoprotein, tekanan darah, dan elektrokardiogram, membuat keputusan tentang perawatan kesehatan mereka dengan cara kualitas hidup yang memperkirakan efek pada hasil untuk diri mereka sendiri6.

2.1         Pertimbangan Anatomik

Batas anatomik leher adalah sebagai berikut: batas atas adalah batas bawah mandibula, ujung mastoid dan garis nukae superior, batas bawah adalah takik suprasternal, klavikula dan garis horizontal melalui prosesus spinosus vertebra servikal ke tujuh (gambar 1). Untuk tujuan deskriptif, leher dibagi menjadi dua bagian oleh garis tengah vertical, dan setiap sisi di bagi menjadi segitiga anterior dan posterior oleh otot sternokleidomastoideus5. Sebagian besar massa terjadi pada segitiga servikal anterior3.

Patokan permukaan leher yang secara normal dapat diraba, termasuk mandibula, kelenjar submandibula, ujung kelejar parotis, tulang hyoid, laring, tiroid, trakea, otot sternokleidomastoideus, klavikula dan vertebra servikal (gambar 1)5. Struktur struktur ini digunkan untuk menjelaskan lebih jauh daerah daerah pada leher yang penting dalam memberikan gambaran letak benjolan pada leher7.

2.2         Prinsip dasar kanker

Secara Harfian neoplasma berarti pertumbuhan baru . menurut willis, neoplasma didefinisikan sebagai “massa jaringan abnormal dengan pertumbuhan berlebihan dan tidak ada koordinasi dengan pertumbuhan jaringan normal, dan tetap tumbuh dengan cara yang berlebihan”1.  Kanker adalah penyakit kompleks yang berasal dari akumulasi berbagai perubahan genetik. Perubahan genetik ini termasuk aktivasi protoonkogen dan inaktivasi gen supresor tumor6. Lebih lanjut, inaktivasi dari fungsi gen supresortumor memerlukan inaktivasi pada kedua alel, biasanya oleh mutasi titik dan delesi kromosom2. Korelasi antara perubahan genetik spesifik ini digambarkan dalam perkembangan histopatologis dari kanker kolorektal yang menuju pada pembentukan model perkembangan molekul untuk penyakit ini. Sekarang, model perkembangan molekul ini bertindak sebagai paradigma untuk memandang perkembangan kanker lain secara molekular1,2.

Sejumlah kejadian genetik spesifik telah diidentifikasikan dalam perkembangan karsinoma sel sekuamosa kepala dan leher. DNA tumor primer sekarang dapat diisolasi dan diperiksa keberadaan delesi dan amplifikasi kromosom,juga karakteristik dari onkogen yang dicurigai. Identifikasi dari perubahan penting genetik yang mendorong perkembangan neoplasma telah menyediakan model perkembangan awal untuk kanker kepala dan leher. Model ini sekarang menyediakan alternatif teknik diagnostik, prognosiss dan terapi yang baru2,3.

2.3         Etiologi Kanker kepala dan leher

Karsinoma sel squamous termasuk 90% keganasan kepala dan leher. Adenokarsinoma, yang biasa terjadi pada kelenjar liur mayor atau minor, merupakan jenis berikutnya yang paling sering terjadi. Kelainan patologik lain nya kurang dari 1 persen1. Tembakau adalah penyebab yang paling sering disebutkan dalam perkembangan sel skumous1. Peminum alcohol dan perokok berat juga memiliki resiko timbulnya karsinoma sel skuamous khususnya pada rongga mulut, faring, dan sinus piriformis2. Higiene mulut yang buruk juga diduga sebagai penyebab1.

Penyebab virus khususnya virus epstaein barr dihubungkan dengan terjadinya karsinoma nasofaring. Orang cina canton memiliki insiden kanker nasofaring yang tinggi, diduga terdapat predeliksi suku bangsa. Adenokarsinoma yang timbul pada bagian kubah hidung dan sinus etmoidal lebih sering terjadi diantara pekerja perabot kayu pada daerah tertentu di inggris, diduga sebagai faktor lingkungan. Pekerja yang sering terpapar dengan kromium dna nikel juga telah menunjukkan insiden keganasan sinus paranasal yang lebih tinggi3.

2.4         Jenis Kanker Kepala Leher

Dua per tiga dari seluruh kanker leher dan kepala terdapat pada rongga mulut dan laring. Distrubusi kira kira 42% adalah tumor ganas rongga mulut, 25% laring, 15% orofaring dan hipofaring, 7% kelenjar liur besar, 4% nasofaring, 4% hidung dan sinus paranasal, 3% tiroid, kulit dan jaringan ikat lainnya2,3.

2.5         Klasifikasi Kanker kepala Leher

Klasifikasi kanker kepala leher pertama kali disampaikan oleh pierre denoy dari prancis tahun 1943. Tahun 1953, terdapat kesepakatan untuk pertama kalinya pada international congress of radiology tentang perluasan tumor. Dalam sistem TNM (T; tumor, N; keterlibatan kelenjar linfe regional, M; metastasis) dan disetujui sebagai sistem dari union international center ie cancer (UICC). Sistem TNM ini dipakai untuk menentukan stadium tumor ganas sebelum melakukan terapi2.

Tabel 1. klasifikasi Klinis TNM

T (tumor primer)
Tx Tumor primer tidak dapat ditemukan
T0 Tidak ada tumor primer
Tis Karsinoma in situ
T1, T2, T3, T4 Besarnya tumor primer
N (kelenjar limfe regional)
Nx Tidak dapat ditemukan keterlibatan kelenjar limfe regional
N0 Tidak ada metastasis kelenjar limfe regional
N1, N2, N3 Besarnya kelenjar limfe regional
M (metastasis Jauh)
Mx Tidak ditemukan metastasis
M0 Tidak ada metastasis jauh
M1 Terdapat Metastasis jauh

Tabel 2. Stadium tumor ganas leher dna kepala (UICC dan AJCC) kecuali tumor kelenjar liur dan tiroid

Stadium I T1 N0 M0
Stadium II T2 N0 M0
Stadium III

T3 N0 M0 

T1 atau T2 atau T3 N1 M0

Stadium IV

T4 N0 atau N1 M0 

Tiap T tiap N M1

2.6         Evaluasi penderita kanker kepala dan leher

Keganasan kepala dan leher dapat terjadi pada semua kelompok usia. Bagaimanapun, usia penderita berguna dalam meninbulkan dugaan jenis tumor yang khusus. Contohnya, rabdomiosarkoma dan limfoma lebih mungkin pada anak anak, sedangkan adenosarkoma terjadi pada seluruh usia. Pada usai 40-70 tahun, tumor skuamous paling sering ditemukan, dengan predominan pada pria lebih tinggi. Suara parau atau nyeri tenggorokan yang kronik, terutama lamanya lebih dari tiga minggu, memuntuhkan evaluasi lebih lanjut2.

Dengan anamnesa dan pemeriksaan kepala leher yang teliti. Lesi ulseerasi yang dicurigai dalam rongga mulut dapat dibiosi di klinik setelah aplikasi topical kokain 4% atau infiltrate anasthesi local dengan jarum. Penggunaan forsep biopsy berbentuk seperti cangkir membutuhkan anasthesi yang minimal. Biopsi liah bagian posterior, tonsil, faring atau laring biasa nya dilakukan dengan anasthesi umum diruang operasi untuk memberikan pemetaan lesi yang teliti. Planigram laring atau laringogram dapat membantu dalam menentukan perluasan tumor, namun CT scan merupakan cara yang paling disukai. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum biopsy untuk menghindari kebingungan antara perluasan tumor dengan edema akibat biopsy3.

Pemeriksaan pemeriksaan berikut dianjurkan untuk menetapkan keadaan umum penderita, adanya metastasis, dan kemungkinan tumor primer kedua. Mengingat bahwa beberapa penderita dengan kanker kepala dan leher yang lanjut dapat mengalami masalah kesehatan besar lainnya seperti sirosis dan penyakit paru obtruksi kronik.

  1. Pemeriksaan hitung darah lengkap, trombosit, urinalisis
  2. Pemeriksaan kimia, termaksuk pemeriksaan fungsi hati lengkap
  3. Pemeriksaan fungsi tiroid (T4) atau scan jika diduga terdapat massa pada tiroid
  4. Radiografi dada (posteroanterior dan lateral), diikuti oleh CT scan bila diduga ada metastatik atau lesi primer kedua.
  5. Pemeriksaan scan tulang untuk metastasis (jika ada riwayat nyeri tulang)
  6. Pemeriksaan jantung, termasuk elektrokardigrafi
  7. Pemeriksaan bekuan darah, termasuk waktu protombin dan waktu tromboplastin parsial.
  8. CT scan laring, maksila, parotis, dasar tengkorak, atau leher jika diperlukan dalam2

Rencana operasi dan untuk menentukan perluasan dan dapat tidak nya direseksi  Dalam ruang operasi, evaluasi endoskopi yang teliti dilakukan tidak hanya pada penderita yang diketahui atau yang diduga tumor tapi juga daerah lain yang dicurigai. Dengan demikian, leukoplakia melewati daerah tumor primer juga harus dibiopsi. Lidah dan faring babgian atas dipalpasi dengan hati hati.nasofaring dilihat dan dipalpasi secara langsung. Laringofaring diperiksa dengan teliti menggunakan laringoskop, daerah aritenoid diangkat secara hati hati daerah post krikoid dan hipofaringeal2,3.

2.7         Terapi pada kanker kepala dan leher

Saat ini terdapat 5 metode yang spesifik untuk pengobatan keganasan kepala dan leher:

  1. Terapi radiasi
  2. Eksisi pembedahan
  3. Eksisi dengan laser
  4. Kemoterapi
  5. Kombinasi

Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas hidup penderita tumor ganas kepala dan leher,

Sebelum dilakukakan terapi terlebih dahulu dilakukan penilaian yang cermat terhadap kesehatan umum pasien, kemungkinan follow up, dan perluansan tumor serta metastasisnya. Tumor yang kecil dapat diobati secara adekuat dengan terapi radiasi dan pembedahan. Untuk tumor yang besar biasanya dilakukan pengobatan kombinasi berupa terapi radiasi dan pembedahan dengan terapi radiasi dilakukan sebelum dan pasca bedah. Tumor rekuren yang tidak dapat diatasi dengan radiasi dan pembedahan ditindak lanjut dengan kemoterapi. Setiap cara pengobatan utama ini dibicarakan di bawah ini3.

2.7.1              Tarapi Radiasi

Terapi Radiasi berperan penting dalam penanganan keganasan pada kepala dan leher dengan menggunakan sinar-x dan sinar-gama, alhi radioterapi harus mengetahui kualitas dan kuantitas radiasi pada sinar yang digunakan, sehingga sinar radiasi akan mencapai lesi pada kedalaman yang diberikan di bawah permukaan tubuh5.

Ahli radioterapi menggunakan beberapa tehnik untuk memberikan radiasi ionisasi. Lesi superficial seperti karsinoma kulit sangat baik diobati dengan sinar-x voltase rendah. Lesi yang lebih dalam, seperti pada lidah atau kelenjar getah bening membutuhkan penetrasi yang lebih besar. Telah ditnjukkan bahwa 5000 rad radiasi gama diberikan lebih dari 5 minggu dapat mengendalikan 90% karsinoma sel squamous subklinik (misalnya, mikroskopik). Oleh karena itu, alasan utama terapi kombinasi untuk mencapai sterilisasi deposit mikroskopik sel tumor yang tidak bisa di obati secara pembedahan3.

Komplikasi yang dapat terjadi setelah radiasi dapat dibagi dalam komplikasi dini dan lanjut. Masalah dini termasuk di bawah ini:

  1. Mukositis dengan disertai rasa tidak enak pada faring
  2. Halangnya nafsu makan
  3. Nausea
  4. Membrane mukosa yang kering
  5. Gangguan hematopoitik (jarang terjadi pada pengobatan radiasi kepala dan leher)
  6. Mielitis tranversa (jarang)

Komplikasi lambat terdiri dari rongga mulut yang kering dan efek radiasi pada tulang yang mendasari, masalah lain berupa insiden karsinoma tiroid ditemukan pada individu yang mendapat radiasi leher untuk penyakit jinak5.

2.7.2              Terapi Pembedahan

Tujuan dari pengobatan pembedahan adalah mengembalikan kapasitas fungsi penderita dengan reseksi total pada kanker dengan batas tepi jaringan normal sedikitnya 2 cm. pembedahan pada keganasan primer seringkali digabung dengan limfadenektomi servikal (pembedahan leher radikal). Pembedahan leher radikal, adalah bagian intriksik reseksi pembedahan kepala dan leher yang paling utama. Keputusan untuk melakukan pembedahan kepala leher radikal didasarkan beberapa faktor:

  1. Kelenjar getah bening yang dapat dipalpasi diduga merupakan metastasis
  2. Tumor primer pada daerah yang berhubungan dengan insiden tinggi dari metastasis leher secara mikroskopik tersamar.
  3. Kelenjar getah bening servikal yang dapat dipalpasi diduga secara klinis sebagai keganasan pada bagian leher kontralateral pada penderita dengan keganasan primer kepala dan leher sebelumnya.
  4. Tumor primer tersamar2,3.

2.7.3              Terapi Kemoterapi

Kemoterapi, dalam arti yang paling sederhana, adalah pengobatan dari penyakit dengan bahan kimia terutama dengan membunuh sel tumor. Dalam penggunaan populer, itu merujuk kepada obat antineoplastik yang digunakan untuk mengobati kanker atau mengkombinasikan obat ini ke dalam sitotoksik  standardized treatment regimen . Agen kemoterapi modern pertama adalah arsphenamine, senyawa arsenik yang ditemukan pada tahun 1909 dan digunakan untuk pengobatan sifilis, kemudian diikuti oleh sulfonamida (obat-obatan sulfa) dan penisilin.

Secara umum, kemoterapi bertindak dengan membunuh sel-sel yang membelah dengan cepat yang merupakan salah satu sifat utama dari sel-sel kanker. Ini berarti bahwa hal itu juga merugikan sel-sel yang membelah dengan cepat dalam keadaan normal: sel-sel di sumsum tulang, saluran cerna dan folikel rambut, sehingga mengakibatkan efek samping yang paling umum berupa; penurunan produksi sel darah, alopecia (rambut rontok) dan lain lain. Obat antikanker yang lebih baru bertindak langsung melawan protein abnormal pada sel-sel kanker, ini disebut terapi target5,6,.

Tumor pada daerah kepala dan leher pada umunya resisten terhadap bahan kemoterapeutik sekarang ini. Baru-baru ini, pada beberapa penelitian telah mengidentifikasikan terdapatnya pompa kecil pada permukaan sel kanker yang aktif berkerja untuk mengeluarkan kembali obat kemoterapi dari dalam ke luar sel. Penelitian tentang p-glikoprotein dan beberapa obat pompa aktif kemoterapi  sedang dikembangkannya. Obat untuk menghambat fungsi p-glikoprotein sedang menjalani pengujian pada Juni 2007 untuk meningkatkan efektivitas kemoterapi5.

Produk kemoterapi yang sekarang ini lebih sering digunakan untuk tumor ganas sel squamous  termasuk metotreksat (MTX), 5-flourouracil dan cisplatin (table 3). Obat obat ini (kecuali MTX) diberikan secara infuse intravena. Doksorubisin (adryamicin) seringkali merupakan obat pengendali yang digunakan untuk sarcoma dan mungkin dikombinasi dengan metotreksat. Mithramycin telah digunakan secara menguntungkan  jika terdapat hiperkalsemia yang dihubungkan dengan karsinoma metastasis5.

Tabel 3. Bahan bahan kemoterapetik

BAHAN EFEK PENGGUNAAN EFEK SAMPING
Cisplatin (sis-diaminedi-kloroplatinum) Hubungan silang = sensitisasi DNA Karsinoma sel squamous ; sarcoma Nausea, Nerfrotoksik, ototoksik
Metotreksat Inhibisi kompetitif asam folat reduktase (inhibitor folat) Karsinoma sel squamous ; Sarkoma osteogenik Stomatitis, leucopenia, anemia, trombositopenia.
Bleomisisn sulfat Menghambat sintesa DNA Karsinoma sel squamous Fibrosis paru paru
Fluorourasil Menghambat sintesis DNA Karsinoma sel squamous dikombinasi dengan cisplatin Stomatitis, leucopenia, muntah
Adriamycin (doksorubisin hidroklorid) Menghambat sistesis asam nukleat Histiositoma fibrosa ganas ; sarcoma Toksisitas bahan lain yang potensial, mikrosupresif ; kardiotoksik

Terdapat beberapa strategi dalam pemberian obat kemoterapi, Kemoterapi dapat diberikan dengan tujuan kuratif. Gabungan modalitas kemoterapi seperti terapi radiasi atau pembedahan adalah jenis terapi pada kanker saat ini3.

Dalam kemoterapi neoadjuvant (perawatan pra operasi) kemoterapi awal dirancang untuk mengecilkan tumor primer, sehingga terapi lanjutan (pembedahan atau radioterapi) kurang destruktif atau lebih efektif. Adjuvant kemoterapi (perawatan pasca operasi) dapat digunakan bila terdapat sedikit bukti adanya resiko kekambuhan. Hal ini juga berguna dalam membunuh sel-sel kanker yang telah menyebar ke bagian lain dari tubuh3.

Kemoterapi paliatif diberikan tanpa maksud kuratif, tetapi hanya untuk meringankan beban tumor dan meningkatkan harapan hidup. Untuk rejimen, profil toksisitas yang lebih baik umumnya diharapkan3.

Kemoterapi memiliki berbagai efek samping yang bergantung pada jenis obat yang digunakan (tabel 3). Efek samping yang paing umum mencakup:

  1. Depresi sistem kekebalan tubuh, yang dapat menyebabkan infeksi fatal. sekitar 85% infeksi adalah akibat alami oppurtunistik4.
  2. Kelelahan. Perawatan dapat secara fisik melelahkan bagi pasien,. Hal lain berupa anemia dapat ringan atau berat. Perawatan untuk mengurangi anemia berupa hormon untuk meningkatkan produksi darah (erythropoietin), suplemen zat besi, dan transfusi darah.
  3. Kecenderungan untuk mudah berdarah. Kemoterapi cendrung membuat keadaan trombositopenia, yang dapat mengakibatkan pendarahan4.
  4. Distress gastrointestinal. Mual muntah yang diinduksi kemoterapi (chemotherapy-induced-nausea and vomiting ­ CINV) adalah efek samping obat kemoterapi umum. Daerah yang berperan dalam proses mual dan muntah adalah pusat muntah yang terletak di formasio lentikular lateral dari medula oblongata dan daerah pemicu kemoreseptor (CTZ) yang terletak di area postrema. Obat-obat kemoterapi (atau metabolitnya) dapat mengaktivasi langsung daerah pemicu kemoreseptor atau di pusat muntah. Beberapa reseptor di kedua daerah tersebut, termasuk dopamin tipe 2 (DA2) dan serotonin tipe 3 (5-HT3) berperan penting. Sering pula, warna dan bau obat-obat kemoterapi (dan bahkan rangsangan yang berhubungan dengan kemoterapi, seperti tanda di ruang pengobatan atau dokter atau perawat yang memberi terapi) dapat mengaktivasi pusat muntah yang lebih tinggi di pusat otak dan memicu muntah. Obat-obat kemoterapi dapat pula bekerja secara perifer, dengan menyebabkan kerusakan sel di saluran pencernaan, dan melepaskan serotonin dari sel enterokromafin mukosa usus halus. Serotonin yang dilepaskan akan mengaktifkan reseptor 5-HT3 pada saraf vagus dan serat aferen nervus splanknikus yang kemudian membawa sinyal sensoris ke medula sehingga terjadi respons muntah8.
  5. Rambut rontok. Beberapa obat kemoterapi menyebabkan rambut rontok dramatis; obat lain dapat menyebabkan rambut tipis. Ini adalah efek sementara: biasanya rambut mulai tumbuh kembali beberapa minggu setelah perlakuan terakhir, kadang-kadang dengan kecenderungan untuk ikal yang mungkin disebut “perm kemoterapi”.

Kerusakan pada organ tertentu juga mungkin terjadi, dengan gejala yang dihasilkan:

  1. Cardiotoxicity (kerusakan jantung)
  2. Hepatotoksisitas (kerusakan hati)
  3. Nefrotoksisitas (kerusakan ginjal)
  4. Ototoxicity (kerusakan pada telinga bagian dalam), menghasilkan vertigo
  5. Encephalopathy (disfungsi otak)6

2.8         Kualitas hidup pasca Kemoterapi1,2,4,8

Pengukuran kualitas hidup bagi pasien kanker paska kemoterapi sangat diperlukan untuk melihat sejauh mana pengobatan mempengaruhi kehidupan pasien. Aspek aspek dalam kualitas hidup termasuk komponen fisik, emosional dan fungsional. Status fungsional mengacu pada kemampuan melakukan aktifitas yang berhubungan dengan kebutuhan dan ambisi, atau peran social yang diinginkan oleh pasien, pada tahap yang paling dasar mengacu terhadap melakukan aktifitas sehari hari. Komponen fisik terkait cara seseorang menanggapi dan menerima keadaan fisiknya. Penderita kanker setelah menjalani kemoterapi akan mengalami kerontokan rambut, keluhan gantrointestinal (muntah, diare), kelelahan fisik, infertile dan keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari hari. Seorang pasien yang menanggapi perubahan fisiknya secara negative setelah menjalani kemoterai akan merasa tidak puas terhadap keadaan fisiknya sehingga menurunkan kualitas hidup. Konsep emosional berhubungan dengan mood pasien. Dapat berupa positif atau negative, meliputi perasaan stess atau penuh percaya diri terhadap keberhasilan terapi yang diberikan.

Kualitas hidup mengacu pada ” kesejahteraan secara menyeluruh,”.  Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah alat kualitas hidup informatif telah tersedia untuk mengukur kualitas hidup. Alat kesehatan yang paling banyak digunakan untuk mengukur kualitas hidup pada pasien kanker adalah EORTC QLQ-C30 (European Organization for Research and Treatment of Cancer QoL Questionnaire), lihat lampiran 1 dan 2. Dengan menggunakan metode ini, penelitian ini menilai kualitas hidup pada pasien kanker dengan terapi perbedaan siklus kemoterapi. Beberapa studi juga mendukung temuan ini tentang pengaruh perbedaan siklus kemoterapi terhadap kualitas hidup. Sebagai contoh, Nematollahi menunjukkan pada pasien yang menderita tumor limfatik bahwa terdapat korelasi positif antara perbedaan siklus kemoterapi dengan kualitas hidup. Demikian pula, kualitas hidup perempuan Amerika keturunan Afrika dengan kanker payudara ditemukan relatif tinggi, kanker rekuren dan metastasis ke kelenjar getah bening berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup. Ia juga telah menunjukkan bahwa perbedaan siklus kemoterapi memiliki efek buruk, diukur melalui kualitas hidup pada wanita dengan payudara beroperasi node-positif cancer. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan siklus kemoterapi dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien kanker. Saat ini, kualitas hidup telah diperkenalkan sebagai titik akhir untuk perbandingan pengobatan kanker, khususnya dalam stadium lanjutan. Kualitas hidup juga, sebagai indikator pemantauan perkembangan penyakit bagi dokter dalam praktek sehari hari. Anggapan bahwa ketika efek suatu penyakit yang dirasakan pasien seperti stress fungsional, stress emosional, dan keaadan fisik, jika dapat dimodifikasi dapat mengurangi mortalitas dan memastikan kesehatan yang optimal.

Dalam sebuah penelitian oleh Dehkordi, dkk, mengenai kualitas hidup penderita kanker paska kemoterapi pada 200 pasien kanker didapatkan Sebagian besar pasien (85%) menyadari penyakit mereka. Temuan tentang kualitas hidup digambarkan dalam tabel 4. Masalah yang paling umum adalah: ketakutan tentang masa depan (29%), stress terhadap penyakit dan konsekuensinya (26,5%), ketidaksabaran untuk sembuh (24%), dan depresi (17,5%). kualitas hidup cukup menguntungkan mayoritas (66%) dari pasien. Tidak ada hubungan antara kualitas hidup dan variabel-variabel seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, lama penyakit, kondisi ekonomi, dan fungsi pekerjaan. Selain itu, tidak ditemukan korelasi antara kualitas hidup dan tingkat pendidikan pasien.

Tabel 4. Frekuensi dan Persentase Kasus tentang kualitas hidup Pasien kanker  yang menjalani kemoterapi

Jenis Penilaian Skala penilaian
Tidak Baik Agak Baik Baik
Keadaan Umum pasien (1%) 2 (45%) 90 (54%) 108
Aktifitas fisik (3%) 6 (74,5%) 149 (22,5%) 45
Status social (2%) 4 (19,5%) 39 (78,5%) 157
Pola tidur (13,5%) 27 (28,5%) 57 (58%) 116
Kualitas Hidup (11%) 22 (66%) 132 (23%) 46

DAFTAR PUSTAKA

  1. Robbins S. L, Kumar V. (1995) Buku ajar Patologi 1. Edisi 4. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta
  2. 2. Soepardi E A, Iskandar N. (2006). Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Bab VII, hal 132-156. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Jakarta
  3. Adams G. L, Boies L. R, Higler P. A, (1997) Boies Buku Ajar penyakit THT. Edisi 6. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta
  4. Quality of live pasca kemoterapi dan Radioterapi. (2007) available at http://www.psikologi.tarumanagara.ac.id/s2/wp-content/uploads/2010/09/01-quality-of-life-janda-pasca-kemoterapi-dan-radioterapi-wenny-halim.pdf last update 12 Desember 2010
  5. 5. Curran D, Giralt J, Paul M. Harari, Ang K. K,. Cohen, et all. (2007)  Quality of Life in Head and Neck Cancer Patients After Treatment With High-Dose Radiotherapy Alone or in Combination With Cetuximab. Journal of Clinical Oncology, Volume 25, No. 16, American society of clinical oncology. USA
  6. Dehkordi A, Heydarnejad M. S, Fatehi D. (2009). Quality of Life in Cancer Patients undergoing Chemotherapy. Oman Medical Journal, Volume 24, Issue 3, Available at http://www.omjournal.org/OriginalArticles/PDF/200907/OA_QualityofLifeinCancerPatients.pdf last update 12 Desember 2010
  7. Snell R. S. (2006) Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi 6. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
  8. Firmansyah M. A,(2010) Penatalaksanaan Mual Muntah yang Diinduksi Kemoterapi. Cerminan dunia kedokteran. Edisi 177, available at http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06_177Penatalaksanaanmualmuntah.pdf/06_177Penatalaksanaanmualmuntah.html last update 12 Desember 2010
Kualitas hidup penderita kanker kepala leher paska kemoterapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s