Autism Spectrume Disorder


PENDAHULUAN
Peningkatan masalah autism yang sangat pesat terjadi di seluruh dunia termasuk indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Autism terjadi 5 dari setiap 10.000 kelahiran, dimana laki-laki empat kali lebih besar dibandingkan perempuan. Anak yang mengidap autism dapat didiagnosa dan dapat diketahui sebelum mereka berusia 30 bulan ( APA,1980). Pada umumnya mendapat gangguan pada kemampuan berpikirnya, pada saat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, serta mereka ini punya tingkah laku yang sangat lain ( De Myer,1982 ).
Autism merupakan gangguan perkembangan yang berat pada anak. Perkembangan yang terganggu terutama dalam komunikasi, interaksi, dan perilaku. Autism bukanlah suatu penyakit, melainkan merupakan suatu gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya tampak sebelum anak itu mencapai umur 3 tahun. Pada sebagian dari mereka gejalanya sudah ada sejak lahir, namun luput dari perhatian orangtuanya. Sedangkan pada anak-anak yang lain telah terjadi perkembangan yang normal, namun sebelum mencapai umur 3 tahun terjadi kemunduran. Pada usia 2 – 3 tahun, di masa anak balita lain mulai belajar bicara, anak autism tidak menampakkan tanda-tanda perkembangan bahasa. Kadangkala ia mengeluarkan suara tanpa arti. Namun anehnya, sekali-kali ia bisa menirukan kalimat atau nyanyian yang sering didengar. Tapi bagi dia, kalimat ini tidak ada 2 maknanya. Kalau pun ada perkembangan bahasa, biasanya ada keanehan dalam kata-katanya. Setiap kalimat yang diucapkan bernada tanda tanya atau mengulang kalimat yang diucapkan oleh orang lain (seperti latah).

Definisi Autism
Autism merupakan salah satu kelompok dari gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial dan perilakunya. Autism berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti ”sendiri” anak autistik seolah-olah hidup didunianya sendiri, mereka menghindari/tidak merespon terhadap kontak sosial dan lebih senang menyendiri. Autism adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris. (Baron-Cohen ,1993 ).
Autism adalah gangguan dalam perkembangan neorologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi ( berhubungan ) dengan orang lain di sekitarnya secara wajar (Sutadi, 2002)

Penyebab autism
Penyebab autisim belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autism disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapjan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autism disebabkan oleh psikiatri / jiwa.
Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autism. Beberapa teori penyebab autism adalah : teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), Genetik (heriditer), teori kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi (vaksin yang mengandung thimerasol), teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin.

Karakteristik Autism
Secara umum, anak autistik mengalami kelainan dalam berbicara, mereka juga mengalami gangguan pada kemampuan intelektualnya serta fungsi syarafnya. Karena dilihat adanya keganjilan perilaku dan ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sekelilingnya.

1. Kelainan berbicara
Pada anak-anak autistik adanya keterlambatan dalam penyimpangan dalam berbicara menyebabkan mereka sukar berkomunikasi serta tidak mampu menangkap pembicaraan orng lain di dirinya. Pada sebagian besar anak autistik kelihatnnya bisu dan bahkan tidak mampu menggunakan isyarat gerak dalam komunikasi (Schwartz & Jonhson, 1981 ).

2. Interaksi Sosial
Karakteristik yang sangat menonjol pada anak-anak autistik ini adalah terisolasinya dia dari lingkungan hidupnya ( Cantwell, Baker & Rutter, 1979 ). Anak autistik akan terlihat tidak ceria dalam hidupnya sebagai layaknya anak-anak yang se-usianya yang masih gemar bermain. Mereka tidak pernah menaruh perhatian atau menaruh keinginannya untuk menghargai perasaan orang lain ( Rutter & Schopler, 1978 : Schwartz & johnson, 1981 ).

3. Perilaku dan Minat
Anak autistik seringkali menunjukan perilaku ganjil yang tidak pernah dilakukan oleh anak-anak yang normal atau anak-anak bekelainan lainnya (Freeman, Ritvo, Tonick, et.al,1981), contohnya anak autistik mudah sekali marah bila ada perubahan pada lingkungannya walau sekicil apapun perubahannya, karena mereka tergantung pada terhadap sesuatu benda yang sedang dia sukai.
The National Autistic Society mengemukakan ada tiga karakter utama yang menunjukkan seseorang menderita autism yakni :
• Social interaction – kesulitan dalam melakukan hubungan sosial,
• Social communication – kesulitan dengan kemampuan komuniskasi secara verbal dan nion verbal, sebagai contoh tidak mengetahui arti gerak isyarat, ekspresi wajah ataupun penekanan suara.
• Imagination – kesulitan untuk mengembangkan mainan dan imajinasinya, sebagai contoh memiliki keterbatasan aktifitas yang membutuhkan imajinasi.

Deteksi anak autism
Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autism. Untuk menetapkan diagnosis gangguan autism para klinisi sering menggunakan pedoman DSM IV. Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan DSM-IV. Diagnosis yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autism yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
Karena karakteristik dari penyandang autistik ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autism. Deteksi dini gejala (autistik) pada anak sebenarnya dapat dilakukan secara mandiri oleh orangtua namun perlu dicatat penegakan diagnosa autis memang harus dilakukan oleh seorang pakar atau ahli terlebih jika autism tersebut seringkali semakin dipersulit atau boleh dikatakan tertutupi oleh gejala gangguan perkembangan lain seperti hyperaktif, epilepsi, retardasi mental, ADHD maupun Down Syndrome.

A. Mendeteksi Dini Gejala Autistik
Meskipun penyebab Autisttik hingga kini belum terungkap, namun pengalaman menunjukan bahwa yang penting adalah mendeteksi gejala pada usia sedini mungkin. Salah satu yang disarankan oleh para ahli adalah mengecek apakah bayi pada usia satu tahun bisa merespon jika namanya di panggil. Sebenarnya anak sudah bisa dideteksi pada usia 6-7 bulan karena pada usia tersebut anak sudah mulai berinteraksi dengan orangtuanya. Jika dia mengalami gangguan autism, maka biasanya dia tidak mau kontak mata denagan orang lain, terlalu diam atau malah terlalu ramai dan sering menangis. Terapi berdasarkan hasil riset yang dilkukan oleh para ahli Amerika Serikat, gejala autism berbeda-beda, karenanya mengecek suara rutin apakah balita bisa merespon saat di panggil merupakan cara terbaik untuk mendeteksi adanya gangguan autism.

B. Mendeteksiteksi Autistik pada Balita
• Bayi tidak menunjukkan kontak mata dan tidak bereaksi ketika diajak berbicara/bercanda. Cenderung sangat tenang, terlalu cuek dan diam atau sebaliknya sangat rewel dan cerewet.
• Lebih suka bermain-main sendiri dan tidak tertarik dengan anak lain.
• Mengamati benda-benda bergerak di sekitarnya atau menonton TV selama berjam-jam dan sangat marah jika diganggu.
• Tidak mampu memanggil orang-orang terdekat sampai usia 18 bulan.
• Bermain dengan benda-benda yang bukan mainan atau bermain dengan cara kurang variatif.
• Tidak mampu bermain pura-pura (pretend play).
• Berperilaku aneh dan stereotif tanpa ada sesuatu penyebab seperti melompat -lompat, jinjit-jinjit, mengepak-kepakkan tangan, berputar-putar, bergerak tanpa tujuan, tertawa atau menangis sendiri, dsb.

C. Mendeteksi dengan Skerning
Beberapa ahli perkembangan anak menggunakan klarifikasi yang disebut sebagai Zero to three’s Diagnostic Classification of Mental Health and Development Disorders of Infacy and early Childhood. DC-0-3 menggunakan konsep bahwa proses diagnosis adalah proses berkelanjutan dan terus menerus, sehingga dokter yang merawat dalam pertambahan usia dapat mendalami tanda, gejala dan diagnosis pada anak. Diagnosis tidak dapat ditegakkan secara cepat, tapi harus melalui pengamatan yang cermat dan berulang-ulang. Dalam penegakkan diagnosis harus berkerjasama dengan orangtua dengan mengamati perkembangan hubungan anak dengan orangtua dan lingkungannya. Konsep DC 0-3 tersebut digunakan karena pengalaman kesulitan dalam mendiagnosis Autism atau gangguan perilaku sejenisnya di bawah 3 tahun, khususnya yang mempunyai gejala yang belum jelas. Faktor inilah yang menyulitkan apabila anak didiagnosis autism terlalu dini, padahal dalam perkembangannya mungkin saja gangguan perkembanagn tersebut ada kecenderungan membaik atau menghilang. Sehingga kalau anaknya didiagnosis Autism, selalu merasa tidak ada harapan bagi anak.

D. Mendeteksi Autism dengan Chat
Terdapat beberapa diagnosis untuk skreening ( uju tapis ) pada penderita autism sejak usia 18 bulan sering di pakai adalah CHAT (Cheklist Autism Toddlers ). CHAT dikembangkan di Inggris dan telah digunakan untuk penjaringan lbih dari 16.000 balita. Pertanyaannya berjumlah 14 buah meliputi aspek-aspek : imitation, pretand play, and join attention. (Menurut American of pediatrics, commite with children disabilities. Technical Report: The pediatricans’Role in diagnosis and Management Autitic Spectrum Disorder in Children. Pediatrics ! 107 : 5 Mei 2001).

E. Mendeteksi Autism dengan Sinyal Neural
Teknologi magneto encaphalogy kini tidak hanya mampu menganalisis epilepsi dan tumor otak, tapi bisa juga mendeteksi gejala autistik. Anak yang miliki gejala autism merespon pecahan suara dan nada dua kali lebih lambat daripada anak normal. Asumsi ini bergulir dari sebuah studi yang dilakukan oleh Timothy Roberts PhD, wakil direktur penelitian radiologi di The Children Hospital’s of Philadelphia, Amerika Serikat. Analisis tersebut dihasilkan dari sebuah alat yang pertamakali di buat pada1968. Alat tersebut mampu terdeteksi sinyal elektrik dari otak yang menghasilkan medan magnet kecil yang mengubah tiap sensasi dan komunikasi antar lokasi bereda otak. Sinyal itu dapat menghubungkan aktivitas rekaman otak dengan tingkah laku tertentu pada anak autistik atau juga di sebut Autistic Sepectrum Disorder ( ASD ). Bila otak anak merespons tiap suara, detektor magnetik noninvasif pada mesin akan menganalisis perubahan medan magnet otak. Saat suara diberikan, MEG merekam pelambatan 20 milidetik (1/50 detik) pada respons otak anak penyandang ASD. Kesimpulan tersebut muncul setelah hasil rekaman dikomparasikan dengan subjek anak normal. “Pelambatan ini mengindikasikan proses pendengaran pada anak autis abnormal. Akibatnya, dapat menuntun ke pelambatan dan overload (ketidakmampuan menampung) dalam memproses suara dan perkataan,” jelas Roberts.

F. Observasi Secara Langsung
Untuk dapat melakukan penilaian yang cermat tentang penyimpangan perilaku pada anak sangat penting dilakukan observasi secara langsung. Observasi secara langsung ini meliputi interaksi langsung, penilaian fungsional dan penilaian dasar bermain.

Program Terapis
Terapi dibagi dalam dua layanan yaitu terapis intervensi dini dan terapi penunjang yang perlu dilakukan terhadap anak yang mengalami gangguan autism.

A.Terapi Intervensi dini
Pada dekade terakhir ini banyak kemajuan dalam mengali karakteristik anak autistik, dimana hasil positif pada anak-anak usia muda mendapatakan intervensi dini. Dengan intervensi dini potensi dasar (functional) anak autistik dapat meningkat melalui program yang intensif. Ini sejalan dengan hipotesa bahwa anak auistik memperlihatkan hasil yang lebih baik bila intervensi dini dilakukan pada usia dibawah 5 tahun. Untuk program terapi intervensi dini ada empat program intervensi dini bagi anak autistik yaitu :
1.Dicret Trial Training (DTT), dari Lovaas dkk, 1987
2.Learning Experience an Alternative Program For preshoolers and parents (LEAP), dari, Strain dan Cordisco, 1994.
3.Floor Time, dari Greenspan dan Wilder, 1998
4.Treatment and Education of Autistic and Related Communication handicapped Children (TEACCH), dari Mesibov, 1996.

B.Terapi Penunjang
Beberapa jenis terapi penunjang bagi anak autistik dapat diberikan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak, antara lain :
1. Terapi Medikamentosa
terapi dengan menggunakan obat-obatan. Pemakaian obat-obat ini akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak terhadap lingkungan. Sehingga ia lebih mudah menerima tatalaksana terapi yang lain. Obat yang selama ini cukup sering digunakan dan memberikan respon yang baik adalah risperidone. Bila kemajuan yang dicapai sudah bagus, maka obat-obatan bisa mulai dikurangi bahkan dihentikan.
2. Terapi Wicara
Terapi wicara merupakan suatu keharusan bagi penyandang autism, karena semua anak autistik mengalami gangguan bicara dan berbahasa. Hal ini harus dilakukan oleh seorang ahli terapi wicara yang memang dididik khusus untuk itu.
3. Terapi Okupasional
Jenis terapi ini perlu diberikan pada anak yang memiliki gangguan perkembangan motorik halus untuk memperbaiki kekuatan, koordinasi dan ketrampilan. Hal ini berkaitan dengan gerakan-gerakan halus dan trampil, seperti menulis.
4. Terapi Perilaku
Terapi ini penting untuk membantu anak autistik agar kelak dapat berbaur dalam masyarakat, dan menyesuaikan diri dalam lingkungannya. Mereka akan diajarkan perilaku perilaku yang umum, dengan cara reward and punishment, dimana kita memberikan pujian bila mereka melakukan perintah dengan benar, dan kita berikan hukuman melalui perkataan yang bernada biasa jika mereka salah melaksanakan perintah. Perintah yang diberikan adalah perintah-perintah ringan, dan mudah dimengerti.
5.Terapi Bermain
Terapi bermain sebagai penggunaan secara sistematis dari model teoritis untuk memantapkan proses interpersonal. Pada terapi ini, terapis bermain menggunakan kekuatan terapuitik permaianan untuk membantu klien menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikosional dan mencapai pertumbuhan, perkembangan yang optimal.
6. Terapi Musik
Terapi musik menurut Canadian Association for Music Therapy (2002) adalah penggunaan musik untuk membantu integrasi fisik, psikologis, dan emosi individu, serta treatment penyakit atau ketidakmampuan. Atau terapi musik adalah suatu te.api yag menggunakan musik untuk membantu seseorang dalam fungsi kognitif, psikologis, fisik, perilaku, dan sosial yang mengalami hambatan maupun kecacatan.
7. Terapi Integrasi Sensoris
Terapi ini berguna meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga lebih mampu untuk memperbaiki sruktur dan fungsinya. Aktivitas ini merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks, dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.
8. Terapi Biomedik
Terapi biomedik fokus pada pembersihan fungsi-fungsi abnormal pada otak. Dengan terapi ini diharapkan fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala autism berkurang.
9. Terapi makanan
Terapi melalui makanan (diet therapy) diberikan untuk anak-anak yang alergi pada makanan tertentu. Diet yang sering dilakukan pada anak autistik adalah GFCF (Glutein Free Casein Free). Anak dengan gejala autism memang tidak disarankan untuk mengasup makanan dengan kadar gula tinggi. Hal ini berpengaruh pada sifat hiperaktif sebagian besar dari mereka.
10. Pendidikan Khusus
Pendidikan khusus adalah pendidikan individual yang terstruktur bagi para penyandang autism. Pada pendidikan khusus, diterapkan sistem satu guru untuk satu anak. Sistem ini paling efektif karena mereka tak mungkain dapat memusatkan perhatiannya dalam suatu kelas yang besar. Banyak orangtua yang tetap memasukan anaknya ke kelompok bermain atau STK normal, dengan harapan bahwa anaknya bisa belajar bersosialisasi. Untuk penyandang autism ringan hal ini bisa dilakukan, namun ia harus tetap mendapatkan pendidikan khusus.

Penatalaksanaan dan terapi biomedik pada autism spectrum disorder
Akhir-akhir ini terapi biomedik banyak diterapkan pada anak dengan ASD. Hal ini didasarkan atas penemuan-penemuan para pakar, bahwa pada anak-anak ini terdapat banyak gangguan metabolisme dalam tubuhnya yang mempengaruhi susunan saraf pusat sedemikian rupa, sehingga fungsi otak terganggu. Gangguan tersebut bisa memperberat gejala autisme yang sudah ada, atau bahkan bisa juga bekerja sebagai pencetus dari timbulnya gejala autisme.
Yang sering ditemukan adalah adanya multiple food allergy, gangguan pencernaan, peradangan dinding usus, adanya exomorphin dalam otak (yang terjadi dari casein dan gluten), gangguan keseimbangan mineral tubuh, dan keracunan logam berat seperti timbal hitam (Pb), merkuri (Hg), Arsen (As), Cadmium (Cd) dan Antimoni (Sb). Logam-logam berat diatas semuanya berupa racun otak yang kuat.
Yang dimaksud dengan terapi biomedik adalah mencari semua gangguan tersebut diatas dan bila ditemukan, maka harus diperbaiki , dengan demikian diharapkan bahwa fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala-gejala autisme berkurang atau bahkan menghilang.
Pemeriksaan yang dilakukan biasanya adalah pemeriksaan laboratorik yang meliputi pemeriksaan darah, urin, rambut dan feses. Juga pemeriksaan colonoscopy dilakukan bila ada indikasi.
“Dari penelitian, makin banyak ditemukan adanya gangguan biomedis pada anak-anak autis yang menyebabkan gangguan pada fungsi otaknya. Seperti, morfin yang berasal dari susu sapi (casomorphin) dan dari gandum (gluteomorphin), adanya logam beracun seperti merkuri, timbal hitam, dan arsenik.
Selain itu, penelitian menunjukkan penyandang autisme kerap kali memiliki pencernaan yang buruk, metabolisme yang kacau, dan alergi terhadap banyak jenis bahan makanan. Banyak pula yang mengalami peredaran darah dan oksigenasi di otak kurang bagus.
Analisis yang digunakan dalam terapi biomedis berguna untuk mengetahui faktor gangguan mana saja yang terdapat dalam tubuh si anak. Bila sudah ditemukan, faktor gangguan tersebut harus dihilangkan atau diminimalkan.
Intrevensi biomedik melibatkan manipulasi dalam diet, dalam hal menghindari komponen tertentu dalam diet dan menambah sumplement semanki sering digunakan dalam penanganan autism spectrum disorder. Terapi biomedik tidak menggantikan terapi-terapi yang telah ada, seperti terapi perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi terapi yang telah ada dengan memperbaiki “dari dalam”. Dengan demikian diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi.
Hasil evaluasi lebih dari 1.000 anak dengan ASD telah menunjukkan dengan jelas bahwa anak-anak secara fisik sakit, menderita masalah signifikan pada sistem organ. Intervensi yang dilakukan kepada mereka meliputi dua proses dasar, baik yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dan kekuatan, dan komunikasi yang tepat yang membentang dari tingkat sel ke interpersonal.
Proses dasar pertama adalah identifikasi pengobatan atau penghapusan hambatan terhadap aktivitas organ tubuh yang sehat. Ada banyak hambatan seperti dalam dunia anak-anak dengan ASD, beberapa terlihat jelas dan beberapa samar samar. Sering ditemui kendala termasuk alergi dan intoleransi makanan, keracunan logam dan kimia, infeksi (jamur, virus, bakteri, parasit dan mikoplasma), stres oksidatif, asidosis, dan stres psikososial. Proses dasar kedua adalah mengidentifikasi apa yang lemah atau terganggu dan bekerja untuk mengatasi penurunan nilai tersebut. Antara isu-isu yang harus diatasi:
o ASD anak-anak seringkali memiliki gangguan atau kekurangan dalam pertahanan kekebalan (terutama dalam imunitas selular dan dalam regulasi yang tepat dari respon imun).
o Umumnya kekurangan banyak nutrisi penting dari Pembatasan diet, pencernaan yang buruk dan penyerapan.
o Oksigenasi jaringan mereka mungkin terganggu dengan kaku sel darah merah, kecenderungan pembekuan abnormal dan asidosis. Kelebihan asam dalam hasil sistem di hiperventilasi, yang mengurangi aliran darah otak.
o Kekurangan dalam faktor-faktor pencernaan sangat umum, termasuk enzim penting (dipeptidyl peptidase IV [DPP-IV] dan lain-lain), asam lambung, usus hormon (secretin, cholecystokinin [CC K]), bikarbonat, sekresi IgA dan flora menguntungkan.
o Neurotransmiter tingkat dan kegiatan sering lemah dalam ASD, terkait dengan sejumlah faktor, termasuk malabsorpsi asam amino esensial, penurunan metilasi (tergantung pada B6, B12, asam folat dan magnesium) dan stres oksidatif.
o Kelemahan fungsi detoksifikasi juga umum di ASD. Ada banyak aspek untuk masalah ini, faktor penting yaitu: gangguan sintesis glutathione (pribadi seluler “pengawal”), gangguan aktivitas metallothionein (a chelator logam super-kuat yang dibuat dalam tubuh) dan habis sulfation jalur (yang dapat detoksifikasi menyebabkan gangguan dan gangguan biokimia tambahan).
o Anak-anak dengan ASD sering memiliki cedera atau ketidakseimbangan dalam kelenjar tiroid dan adrenal yang membutuhkan perhatian.
o Akhirnya, anak-anak ini seringkali memiliki kecenderungan obsesif dan hampir perilaku kecanduan yang mengarah ke pembatasan input di daerah kritis, termasuk diet seimbang, bermain efektif, pembelajaran sosial, pemecahan masalah, aktivitas fisik, bahasa dan tanggapan emosional yang positif.

Daftar Pustaka
Jennifer Stephenson and Mark Carter (2008). The Use of Weighted Vests with Children with Autism Spectrum Disorders and Other Disabilities. Journal of Autism and Developmental Disorders.

Ganz Jennifer B. (2008). THE EFFECTIVENESS OF DIRECT INSTRUCTION FOR TEACHING LANGUAGE TO CHILDREN WITH AUTISM SPECTRUM DISORDERS: IDENTIFYING MATERIALS Journal of Autism and Developmental Disorders.

A.H.A. Latif and W.R. Williams (2007) Diagnostic trends in autistic spectrum disorders in the South Wales alleysThe National Autistic Society 10.1177/1362361307083256

Waring R. H (2000) Biomedical treatment in autism. J.Nutritional and environmental medicine 10 25-32

Amanda C. Gulsrud, Connie Kasari, Stephanny Freeman and Tanya Paparella (2007). Children with autism’s response to novel stimuli while participating in interventions targeting joint attention or symbolic play skillsThe National Autistic Society 10.1177/1362361307083255

Autism Spectrume Disorder

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s