Pencegahan pada Penyakit Menular Seksual/Sexually transmitted infections (STIs), Sebuah Tinjauan Kepustakaan


PENDAHULUAN
Infeksi menular seksual atau Sexually transmitted infections (STIs) adalah suatu gangguan/penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak atau hubungan seksual baik secara genito genital, oro-genital dan ano-genital1.
STIs disebabkan oleh banyak mikroorganisme pathogen dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama disebagian besar dunia2,3. Kegagalan dalam hal mendiagnosis dan mengobati STIs pada tahap awal, akan menyebabkan komplikasi serius dan gejala sisa, termasuk infertile, kehmilan ektopik, kanker anogenital, dan kematian dini, serta infeksi neonatal dan bayi3,4.
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 340 juta kasus baru sifilis, gonore, klamidiadan trichomoniasis terjadi di seluruh dunia pada tahun 19995. Indonesia setiap tahun terjadi peningkatan, penelitian yang dilakukan saifuddin.A.B, STIs paling banyak dijumpai di indonesia adalah IGNS (36,66%)6. Sementara di aceh pada penelitian yang dilakukan Aulia M, didapatkan kasus STIs pada tahun 2008 – 2010 berjumlah 113 kasus7.
Munculanya HIV dan AIDS telah memfokuskan perhatian yang lebih besar pada pengontrolan STIs3. Terdapat hubungan yang kuat antara penyebaran STIs dan transmisi HIV, dan tipe STIs ulseratif dan non-ulseratif keduanya telah ditemukan sebagai peningkatan resiko transmisi HIV secara seksual4. Munculnya penyebaran infekis HIV dan AIDS juga menyebabkan kesulitan dalam pengelolaan STIs dan muncul berbagai komplikasi. Misalnya, karena imunosupresi yang disebabkan oleh HIV, pengobatan menjadi semakin sulit terutama pada daerah daerah dengan prevalensi infeksi HIV tinggi4. Resistensi antimikroba pada beberapa patogen STIs tampak meningkat. Agen baru, seperti sefalosporin generasi ketiga dan fluoroquinolones, mampu mengobati infeksi oleh strain resisten, antimikroba ini tersedia namun mahal. bagaimanapun, biaya awal yang tinggi harus mempertimbangkan kemungkinan inadequate terapi, termasuk komplikasi, relaps dan penularan lebih lanjut infeksi2,3.
Pencegahan dan pengendalian STIs didasarkan pada lima strategi utama sebagai berikut: 1) pendidikan dan penyuluhan pada orang yang beresiko terhadap cara-cara untuk menghindari STIs melalui perubahan perilaku seksual; 2) identifikasi asymptomatically infeksi pada orang-orang tanpa gejala untuk mencari diagnostik dan perawatan; 3) diagnosis yang efektif dan pengobatan adekuat pada orang yang terinfeksi; 4) evaluasi, pengobatan, dan konseling pasangan seks dari orang yang terinfeksi dengan STIs, dan 5) preexposure vaksinasi terhadap orang yang berisiko STIs2,3,4.

DEFINISI
infeksi menular seksual atau Sexually transmitted infections (STIs) adalah suatu gangguan/penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak atau hubungan seksual baik secara genito genital, oro-genital dan ano-genital1.

EPIDEMOLOGI
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 340 juta kasus baru sifilis, gonore, klamidiadan trichomoniasis terjadi di seluruh dunia pada tahun 1999 pada pria dan wanita berusia 15-45 tahun. Jumlah terbesar infeksi terjadi di wilayah selatan dan asia tenggara, diikuti oleh sub sahara afrika dan amerika latin serta karibia5.
Hampir seluruh penderita STIs di indonesia setiap tahun terjadi peningkatan, ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh saifuddin.A.B, STIs yang paling banyak dijumpai di indonesia adalah IGNS (36,66%) diikuti oleh candidiasis (22,00%), condiloma akuminata (9,47%), gonorhe (7,00), herpes genital (2,48%), sifilis (2,33%), dan HIV (0,1%)6.
Sementara itu di aceh pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh aulia M, pada rumah sakit umum dr.Zainoel Abidin Banda Aceh didapatkan kasus STIs pada tahun 2008 – 2010 berjumlah 113 kasus, 20 kasus pada 2008, 36 kasus pada 2009 dan 56 kasus pada 2010. STIs yang paling banyak dijumpai di RSUDZA adalah gonorhoe (40,7%)7.
Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi meningkatnya insiden STIs ini, antara lain: perubahan demografik secara luar biasa, perubahan sikap dan tindakan, kelainan dalam pemberian pendidikan kesehatan terutama sex, perasaan aman pada penderita karena pemakaian antiboitik dan kontrasepsi, muncul resistensi antibiotik, fasilitas kesehatan yang kurang memadai, banyak nya kasus asimtomatik1.

ETIOLOGI
infeksi menular seksual atau Sexually transmitted infections (STIs) disebabkan oleh banyak mikroorganisme pathogen (Tabel 1)2

Table 1 Sexually Transmissible Pathogens and Associated Disease Syndromes2

Pathogen Bacteria  Associated Disease or Syndrome
  Neisseria gonorrhoeae Urethritis, epididymitis, proctitis, cervicitis, endometritis, salpingitis, perihepatitis, bartholinitis, pharyngitis, conjunctivitis, prepubertal vaginitis, prostatitis, accessory gland infection, disseminated gonococcal infection (DGI), chorioamnionitis, premature rupture of membranes, premature delivery, amniotic infection syndrome
  Chlamydia trachomatis All of the above except DGI, plus otitis media, rhinitis, and pneumonia in infants, and Reiter’s syndrome
  Ureaplasma urealyticum Nongonococcal urethritis (NGU)
  Mycoplasma genitalium (?) Nongonococcal urethritis
  M. hominis Postpartum fever, salpingitis (?)
  Treponema pallidum Syphilis
  Gardnerella vaginalis Bacterial (“nonspecific”) vaginosis (in conjunction with Mycoplasma hominis and vaginal anaerobes, such as Mobiluncus spp.)
  Mobiluncus curtisii Bacterial vaginosis
  M. mulieris Bacterial vaginosis
  Haemophilus ducreyi Chancroid
  Calymmatobacterium granulomatis Donovanosis (granuloma inguinale)
  Shigella spp. Shigellosis in men who have sex with men (MSM)
  Campylobacter spp. Enteritis, proctocolitis in MSM
  Helicobacter cinaedi (?) Proctocolitis; dermatitis, bacteremia in AIDS
  H. fenneliae (?) Proctocolitis; dermatitis, bacteremia in AIDS
Viruses
  HIV-1 and -2 HIV disease, AIDS
  HSV types 1 and 2 Initial and recurrent genital herpes, aseptic meningitis, neonatal herpes
  HPV Condyloma acuminata; laryngeal papilloma; intraepithelial neoplasia and carcinoma of the cervix, vagina, vulva, anus, penis
  Hepatitis A virus (HAV) Acute hepatitis A
  Hepatitis B virus (HBV) Acute hepatitis B, chronic hepatitis B, hepatocellular carcinoma, polyarteritis nodosa, chronic membranous glomerulonephritis, mixed cryoglobulinemia (?), polymyalgia rheumatica (?)
  Hepatitis C virus (HCV) Acute hepatitis C, chronic hepatitis C, hepatocellular carcinoma, mixed cryoglobulinemia, chronic glomerulonephritis
  Cytomegalovirus (CMV) Heterophil-negative infectious mononucleosis; congenital CMV infection with gross birth defects and infant mortality, cognitive impairment (e.g., mental retardation, sensorineural deafness); protean manifestations in the immunosuppressed host
  Molluscum contagiosum virus (MCV) Genital molluscum contagiosum
  Human T cell lymphotrophic virus (HTLV-I) Human T cell leukemia or lymphoma, tropical spastic paraparesis
  Human herpes virus type 8 (HHV-8) Kaposi’s sarcoma, body cavity lymphoma, multicentric Castleman’s disease
Protozoa
  Trichomonas vaginalis Vaginal trichomoniasis, NGU
  Entamoeba histolytica Amebiasis in MSM
  Giardia lamblia Giardiasis in MSM
Fungi
  Candida albicans Vulvovaginitis, balanitis
Ectoparasites
  Phthirus pubis Pubic lice infestation
  Sarcoptes scabiei Scabies

SOURCES: Adapted from W Cates, Jr, KK Holmes, in JM Last, RB Wallace (eds): Maxcy-Rosenau-Last, Public Health and Preventive Medicine, 14th ed. Norwalk, CT. Appleton & Lange, 1998, pp 137–155; and KK. Holmes, HH Handsfield, in A Fauci, E Braunwald, KJ Isselbacher, JD Wilson, JB Martin, DL Kasper, SL Hauser, DL Longo (eds): Harrison’s Principles of Internal Medicine, 14th ed. New York, McGraw-Hill, 1998.

JENIS PENYAKIT STIs
Penyakit dengan karakteristik uretra discharge
Pasien laki laki mengeluh terdapat uretra discgarge atau disuria sebaiknya diperiksa dengan pasti sampai didapatkan tampak discharge. Jika tidak terdapat saat inspeksi. Lakukan tehnik pemijatan uretra dari bagian ventral penis kearah meatus. Discharge tersebut kemudian diperiksa secara mikroskopis. Jika menunjukkan peningkatan jumlah polymorphonuclear leukocytes dan pewarnaan Gram menunjukkan adanya gonokokus. Pada pria, lebih dari 5 leukosit polymorphonuclear per high power fi eld (x1000) mengindikasikan uretritis. Mikroba pathogen utama yang menyebabkan uretra discharge adalah Neisseria gonnorrhoeae dan Chlamydia Trachomatis. Dalam pengelolaan sindromik, pengobatan pasien dengan uretra discharge secara memadai harus mencakup dua organisme. Dimana fasilitas labolatorium yang dapat diandalkan yang tersedia, pembedaan bisa dibuat antara dua organisme dan pengobatan secara spesifik dapat ditempuh3.
Tabel 2. Rekomendasi terapi pada uretra discharge3

Treatment options for Gonorrhoea

Treatment options for Chlamydia

Ciprofloxacin Doxycycline
Ceftriaxone Azithromycin
Cefixime
Spectinomycin
Alternatives
Amoxycillin
Erythromycin (if Tetracycline contraindicated)
Ofloxacin
Tetracycline

Catatan3
■ Pasien harus dianjurkan untuk kembali jika gejala bertahan 7hari setelah dimulainya terapi.
■ WHO merekomendasikan untuk menggunakan terapi dosis tunggal
Penyakit dengan karakteristik ulkus genitalia
Prevalensi dari organisme penyebab ulkus genitalia bervariasi diberbagai belahan dunia dan berubah secara dramaris dari waktu ke waktu. Diferensial diagnosis klinis ulkus genital tidak akurat, khususnya dalam menentukan beberapa etiologi yang sering menyebabkan ulkus genitalia. Manifestasi klinis dan pola ulkus genital mungkin akan lebih berubah jika disertai dengan infeksi HIV8. Setelah dilakukan pemeriksaan untuk mengkomfirmasi adanya ulkus genitalia, perawatan secara tepat terhadap causa penyebab dengan pemberian antimikroba yang adekuat harus segera diberikan9.
Di daerah di dimana sipilis dan chancroid lazim dijumpai, pasien dengan ulkus genital harus ditatalaksana seperti kedua kondisi tersebut mulai saat awal gejala3, untuk memastikan terapi yang adekuat pada kasus kehilangan untuk menindak lanjuti. Pada area baik granuloma inguinala atau lymphogranuloma venereum (LGV) lazim dijumpai, perawatan untuk salah satu atau kedua kondisi harus disertakan untuk alasan yang sama10. Laporan terbaru dari bagian Afrika, Asia dan Amerika Latin menunjukkan bahwa ulkus genitalia lebih sering disebabkan oleh infeksi pathogen HSV-211.

Tabel 3. Rekomendasi terapi pada ulkus genitalia3

Drug options for syphilis

 

Drug options for chancroid Drug options for

granuloma inguinale

Drug options for LGV Drug options for genital herpes
Benzathine

benzylpenicillin

Ciprofloxacin

Azithromycin

Erythromycin

Azithromycin

Doxycycline

Doxycycline

Erythromycin

Acyclovir

Valaciclovir

Famciclovir

Alternatives Alternatives Alternatives Alternatives Alternatives
Procaine

benzylpenicillin

Ceftriaxone Erythromycin

Tetracycline

Trimethoprim/

sulfamethoxazole

Tetracycline
Penicillin allergy and non-pregnant
Doxycycline

Tetracycline

Penyakit dengan karakteristik Discharge Vagina

Vaginitis biasanya ditandai dengan keluarnya cairan vagina dan / atau gatal pada vulva dan iritasi, serta bau vagina sering dijumpai. Tiga penyakit yang paling sering terkait dengan vagina discharge adalah Bacterial Vaginosis (pergantian flora vagina normal oleh pertumbuhan berlebih mikroorganisme anaerobik, mycoplasmas, dan Gardnerella vaginalis), trikomoniasis (T. vaginalis), dan kandidiasis (disebabkan oleh Candida albicans)2,4,8. Cervicitis kadang-kadang dapat menyebabkan keluarnya vaginal discharge. Meskipun kandidiasis vulvovaginalis (VVC) biasanya tidak menular secara seksual, namun termasuk dalam bagian STIs karena sering didiagnosis pada wanita yang sedang dievaluasi untuk STIs. Berbagai metode diagnostik yang tersedia untuk mengidentifikasi etiologi dari discharge vagina. Pengujian laboratorium gagal untuk mengidentifikasi penyebab vaginitis pada sebagian kecil wanita.

Penyebab dari gejala pada vagina biasanya dapat ditentukan oleh pH dan pemeriksaan mikroskopis. PH dari cairan vagina dapat ditentukan dengan kertas pH; pH tinggi (yaitu,> 4,5) biasanya akibat bacterial vaginosis atau trikomoniasis tetapi mungkin tidak sangat spesifik1,2. Discharge dapat lebih lanjut diperiksa dengan cara pengenceran satu sampel dalam satu sampai dua tetes larutan normal saline 0,9% pada satu slide dan sampel kedua dengan larutan potassium hydroxide (KOH) 10%. Bau amin terdeteksi segera setelah menerapkan KOH menunjukkan Bacterial vaginosis. Cover diperiksa di bawah mikroskop. Motil T. vaginalis atau clue cells (sel epitel dengan batas-batas dikaburkan oleh bakteri kecil), yang merupakan karakteristik dari Bacterial Vaginosis, biasanya diidentifikasi dengan mudah dalam spesimen saline. Leukosit tanpa bukti trichomonads atau ragi biasanya menandakan cervicitis. Ragi atau pseudohyphae spesies Candida lebih mudah diidentifikasi dalam spesimen KOH2. Namun, tidak adanya trichomonads atau pseudohyphae tidak mengesampingkan infeksi ini karena beberapa penelitian telah menunjukkan keberadaan patogen pada kultur atau PCR setelah pemeriksaan mikroskopis negatif. Adanya tanda-tanda objektif peradangan vulva tanpa adanya patogen vagina, bersama dengan jumlah minimal discharge, menunjukkan kemungkinan iritasi non infectious mekanik, kimia, alergi, atau lain lain dari vulva. kultur untuk T. vaginalis lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan mikroskopis1,4,8.

Tabel 4. Rekomendasi terapi pada discharege vagina3

Drug options for BV

Drug options for T. Vaginalis

Drug options for candida

Metronidazole Metronidazole Miconazole
  Tinidazole Clotrimazole
Fluconazole

Alternatives

Alternatives

Clindamycin Nystatin
Metronidazole gel
Clindamycin vaginal cream

PEDOMAN PENCEGAHAN KLINIS

Pencegahan dan pengendalian STIs didasarkan pada lima strategi utama sebagai berikut: 1) pendidikan dan penyuluhan pada orang yang beresiko terhadap cara-cara untuk menghindari STIs melalui perubahan perilaku seksual; 2) identifikasi asymptomatically infeksi pada orang-orang tanpa gejala untuk mencari diagnostik dan perawatan; 3) diagnosis yang efektif dan pengobatan adekuat pada orang yang terinfeksi; 4) evaluasi, pengobatan, dan konseling pasangan seks dari orang yang terinfeksi dengan STIs, dan 5) preexposure vaksinasi terhadap orang yang berisiko STIs2,3,4.
pencegahan primer STIs dimulai dengan mengubah perilaku seksual yang menempatkan orang-orang berisiko terinfeksi. Penyediaan layanan kesehatan memiliki kesempatan unik untuk memberikan pendidikan dan konseling kepada pasien. Sebagai bagian dari wawancara klinis, penyediaan layanan kesehatan harus secara rutin dan teratur mendapatkan sejarah seksual dari pasien. Konseling secara terampil, ditandai dengan hormat, kasih sayang, dan sikap menghormati terhadap semua pasien, sangat penting untuk mendapatkan riwayat seksual menyeluruh dan untuk memberikan pesan-pesan pencegahan efektif. Kunci yang efektif dalam memfasilitasi hubungan dengan pasien termasuk penggunaan 1) pertanyaan-berakhir terbuka (misalnya, “Ceritakan tentang setiap pasangan seks baru anda sejak kunjungan terakhir anda” dan “apa pengalaman anda dengan menggunkaan kondom?”), 2) bahasa yang dimengerti (” apakah Anda pernah memiliki keropeng atau sakit di penis anda? “), dan 3) bahasa normalisasi (” beberapa pasien saya mengalami kesulitan menggunakan kondom dengan setiap tindakan seks. Bagaimana dengan Anda “)?. Pendekatan terhadap pasien untuk mendapatkan segala informasi telah dringkas dalam salah satu pendekatan menggunakan the Six Ps : Partners, Prevention of Pregnancy, Protection from STDs, Practices, Past History of STIs4.
Pasien harus diyakini bahwa pengobatan akan diberikan terlepas keadaan indibidu (misalnya, kemampuan membayar, kewarganegaraan atau status imigrasi, bahasa lisan atau praktek seks tertentu)4.

Metode Pencegahan Melalui Intervensi untuk Mengurangi Transmisi Seksual STIs/HIV dan rentan Kehamilan yang tidak diinginkan serta Pengurangan Jumlah Mitra Seks
Cara yang paling dapat diandalkan menghindari penularan STIs adalah menjauhkan diri dari seks (yaitu, oral, vagina, atau anal seks) atau berada dalam hubungan jangka panjang berupa monogamy dengan pasangan yang tidak terinfeksi2. Konseling untuk tidak berhubungan seks sangat penting bagi orang yang sedang dirawat dengan STIs (atau mitra yang sedang menjalani pengobatan) dan bagi orang-orang yang ingin menghindari kemungkinan konsekuensi seks sepenuhnya (misalnya, STIs/HIV dan kehamilan yang tidak diinginkan)3,4.

Vaksinasi
Vaksinasi Preexposure adalah salah satu metode yang paling efektif untuk mencegah penularan dari beberapa STIs. Misalnya,karena infeksi hepatitis B virus, vaksinisasi hepatitis B dianjurkan untuk semua yang tidak divaksinasi. Vaksin quadrivalent terhadap human papillomavirus (HPV tipe 6, 11, 16, 18) sekarang tersedia dan berlisensi untuk perempuan berusia 9-26 tahun. Vaksinisasi lain untuk STIs sedang dalam tahap penelitian4.

Kondom
Ketika digunakan secara konsisten dan benar, kondom sangat efektif dalam mencegah penularan infeksi HIV dan dapat mengurangi resiko penyakit menular seksual lainnya, termasuk klamidia, gonore, dan trikomoniasis, dan mungkin mengurangi risiko wanita mengembangkan penyakit radang panggul (PID) 9,10,11.
Menggunakan kondom bisa mengurangi risiko penularan herpes simplex virus-2 (HSV-2), meskipun data untuk efek ini lebih terbatas11. Penggunaan kondom bisa mengurangi resiko penyakit HPV terkait (misalnya, ruam genital dan kanker seviks dan mengurangi konsekuensi yang merugikan dari infeksi HPV, seperti telah dikaitkan dengan tingginya tingkat regresi cervical intraepithelial neoplasia (CIN ), dan dengan regresi lesi penis terkait HPV pada laki-laki9.
Sejumlah studi terbatas prospektif telah menunjukkan efek perlindungan kondom pada HPV kelamin; suatu penelitian prospektif baru-baru ini di kalangan perempuan aktif secara seksual perguruan tinggi yang baru menunjukkan bahwa penggunaan kondom secara konsisten dikaitkan dengan penurunan 70% risiko untuk penularan HPV9,10.
Tingkat kerusakan kondom selama hubungan seksual dan penarikan sekitar dua kondom patah per 100 kondom digunakan di Amerika Serikat. Kegagalan kondom untuk melindungi terhadap penularan PMS atau kehamilan yang tidak diinginkan biasanya hasil dari penggunaan yang tidak konsisten atau tidak benar daripada kondom. Pasien harus diberitahu bahwa kondom harus digunakan secara konsisten dan benar untuk menjadi efektif dalam mencegah PMS, dan mereka harus diinstruksikan dalam penggunaan kondom yang benar10.

Populasi Khusus
Wanita Hamil
Intrauterine STIs memiliki efek yang sangat parah pada wanita hamil, mitra seksual dan janin. Semua wanita hamil dan pasangan seks mereka harus bertanya tentang STIs, konseling mengenai kemungkinan infeksi perinatal dan memastikan akses terhadap pengobatan, jika diperlukan,
Rekomendasi populasi skrining4:
o Semua wanita hamil di Amerika Serikat harus diuji untuk infeksi HIV.
o Tes serologi untuk sifilis harus dilakukan pada semua pada kunjungan perinatal pertama.
o Semua wanita hamil harus secara rutin dites untuk antigen hepatitis B pada kunjungan antenatal pertama di setiap kehamilan, bahkan jika telah divaksin sebelumnya.
o Semua wanita hamil harus secara rutin diuji Chlamydia trachomatis pada kunjungan antenatal pertama.
o Semua wanita hamil yang berisiko untuk gonore atau tinggal didaerah di mana prevalensi Neisseria gonorrhoeae tinggi harus diuji pada kunjungan prenatal pertama untuk N. gonorrhoeae.
o Semua wanita hamil berisiko tinggi untuk infeksi hepatitis C harus diuji untuk antibodi hepatitis c pada kunjungan prenatal pertama.
o Evaluasi bacterial vaginosis (BV) mungkin dilakukan selama kunjungan perinatal pertama bagi pasien tanpa gejala yang yang berisiko tinggi untuk persalinan prematur (misalnya, mereka yang memiliki riwayat persalinan prematur sebelumnya).

Remaja
Penyakit STIs paling tinggi ditemukan pada kelompok usia remaja. Sebagai contoh, klamidia dan gonore kasus terbanyak didapatkan di kalangan perempuan berusia 15-19 tahun, dan banyak orang mendapatkan infeksi HPV selama usia mereka remaja. Di antara remaja dengan infeksi HBV akut, faktor risiko yang paling sering dilaporkan mengalami kontak seksual dengan orang yang terinfeksi kronis atau dengan banyak pasangan seks, atau laporan homoseksual. Sebagai bagian dari strategi yang komprehensif untuk menghilangkan transmisi HBV di Amerika Serikat, ACIP telah merekomendasikan bahwa semua anak-anak dan remaja diberikan vaksin HBV 3.
Remaja Muda (yaitu, orang yang berusia Persetujuan hukum untuk vaksinisasi pada remaja berbeda tiap negara. Beberapa negara mempertimbangkan pemberian vaksin serupa dengan pengobatan STIs dan memberikan layanan vaksinasi tanpa izin orang tua. Karena sangat penting dari rahasia, penyedia layanan kesehatan harus mengikuti kebijakan yang menyediakan kerahasiaan dan mematuhi undang-undang negara untuk layanan STIs3,4,11.

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke lima; Penyakit Kelamin, Daili SF. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.2007
2. Wolff k, Johnson RA, Suurmond D. Fitzpatrick’s color atlas and synopsis of Clinical Dermatology fifth edition: part III Disease due to microbial agent, section 27 sexual transmitted infections. The McGraw-Hill Companies, 2007
3. WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. Guidelines for the management of sexually transmitted infections. World Health Organization, 2003. Switzerland.
4. Lindegren ML, Shaw FE, Hewitt SM, Rutledge TF, McGee PA, Holland BJ, et all. Sexual transmitted disease treatment guidline, 2006: Vol. 55 / No. RR-11. Morbidity and Mortality Weekly Report, department of health and human services center for disease control and prevention
5. Anonymous. Sexuall Transmitted Infections. Available at URL : http://www.who.int/topics/sexually_transmitted_infectious/en/. (diakses pada April 2011)
6. Anonymous. 2011. PMS-statistic. Available at URL http://www.avert.org/pms_statistic.htm. (diakses pada april 2011)
7. Mustika A, Mabrurah R. Angka Kejadian Penyakit Menular Seksual di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2008 s/d 2011. Bagian ilmu kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala RSUD dr.Zainoel Abidin Banda Aceh 2011: 31-44.
8. Chorba T, Tau G, Irwin KL. Sexually Transmitted Diseases: chapter 20. Urologic Diseases in America
9. Holmes KK, Levine R, Marcia Weaver. Effectiveness of condoms in preventing sexually transmitted infections. Bull World Health Organ. 2004;82:454-461.
10. Ness RB, Randall H, Richter HE, et al. Condom use and the risk of recurrent pelvic inflammatory disease, chronic pelvic pain, or infertility following an episode of pelvic inflammatory disease. Am J Public Health 2004;94:1327-9.
11. Wald A, Langerberg AGM, Krantz E, et al. The relationship between condom use and herpes simplex virus acquisition. Ann Intern Med 2005;143:707–13.

About

Said Alfin Khalilullah adalah blogger pada blog ini. Ia menjadikan blog ini sebagai mediator menumpahkan pemikiran dan karyanya melalui peyajian yang gurih.

Posted in scientific literature
One comment on “Pencegahan pada Penyakit Menular Seksual/Sexually transmitted infections (STIs), Sebuah Tinjauan Kepustakaan
  1. widiagroup says:

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://entrydatabase.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The blogger

Said Alfin Khalilullah adalah blogger pada blog ini.

Ia menjadikan blog ini sebagai mediator untuk menumpahkan pemikiran & karyanya melalui peyajian yang gurih.

Instagram
When we were as official. together We have been empowering medical students and improving nation's health. We also fight to the higher flight.
OFFICIAL OF CIMSA UNSYIAH 2008-2009
#cimsa #official #cimsaunsyiah #teamwork #awesometeam The way for win are fail, fail, fail and also do not give up. Life, it's all depends on you. proud to be born as a doctor. #life, #health and #happy. share living value Aceh Culture.
  • Demi Laga yang Menarik, Bayern Doakan CR7 Lekas Sembuh April 17, 2014
    CEO Bayern Munich, Karl-Heinz Rummenigge, ingin menyaksikan sebuah laga yang menarik saat timnya melawan Real Madrid di babak semifinal Liga Champions. Oleh karena itu, ia mendoakan agar Cristiano Ronaldo segera lekas sembuh.
  • Timor Leste Kini Favorit Backpacker Pemberani April 17, 2014
    Timor Timur, negara dengan konflik kekerasaan yang pada akhirnya melepaskan diri dari Indonesia. Setelah kemerdekaan diperoleh negara ini lebih dari satu dekade lalu, Timor Timur atau yang secara resmi kini menjadi Timor Leste menderita kemiskinan dan ketidakpastian politik.
Blog Stats
  • 21,354 hits

Join 353 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 353 other followers

%d bloggers like this: